ﺃﻠﺳﻼﻤ ﻋﻟﻳﻛﻣ ﻮﺮﺤﻣﺔ ﺃﻠﻟﻪ ﻮﺒﺭﻜﺎﺘﻪ
Subhaanalladzii asraa bi ‘abdihii lailam minal masjidil haraami ilal
masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahuu li nuriyahuu min aayaatinaa innahuu
huwas samii’ul bashiir
“Mahasuci
Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al Israa’ : 1)
Yang
terhormat Bpk kepala sekolah dan Bpk wakil kepala sekolah
Yang
terhormat Bpk/Ibu gu
Serta
hadirin yang berbahagia
Pada
kesmpatan kali ini saya akan membahas tentang
hikmah peristiwa isra mi’rajnya Nabi Muhammad saw.Paling tidak, ada ”tiga” hal
yang bisa kita petik hikmahnya dari peristiwa ini.
Hikmah
pertama adalah masalah keimanan, yakni menambah keyakinan kita kepada Allah SWT
bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Hikmah
kedua, kita mesti memahami “hasil” yang dibawa dari perjalanan peristiwa ini
adalah diperintahkannya kita menegakkan shalat fardlu yang lima waktu. Manakala
Allah memerintahkan ibadah lain selain shalat.Tapi, ketika Allah SWT akan
memerintahkan shalat, Rasululah SAW terlebih dahulu harus di mi’rajkan untuk
langsung bertemu dengan-Nya dan menerima perintah-Nya. Ini bermakna betapa
pentingnya perintah shalat lima waktu bagi kehidupan kita.Maka Rasulullah SAW
dalam sebuah haditsnya pernah menyatakan, shalat itu adalah mi’rajnya
orang-orang mu’min. Artinya shalat yang kemudian diperintahkan oleh Allah SWT
kepada kita ummat Islam melalui Rasulullah SAW dengan peristiwa Isra Mi’raj itu
dijadikan sarana untuk kita bisa mi’raj sehari lima kali untuk menghadap Allah
SWT.
Adapun
hikmah ketiga, adalah hendaknya kita semua mesti mau memperbaiki diri dan
berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya
bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana
moral yang telah banyak melenceng baik dari tata kehidupan para pejabat
eksekutif, yudikatif maupun legislatif hingga masyarakat biasa telah banyak
terefleksi dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan
hakiki sesuai syariat Islam.
Bagi
kita sebagai seorang mu’min harus yakin bahwa segala sesuatu yang mustahil
menurut akal kita, itu tidak mustahil menurut Allah Yang Mahakuasa. Hikmahnya
bagi kita adalah, rasa optimis mesti selalu ada pada diri kita. Sehingga kalau
kita dihadapkan pada suatu masalah yang sudah buntu atau tidak mungkin menurut
akal kita, tetap saja kita “tidak akan” pesimis, “tidak akan” sampai putus asa.
Semoga ketiga hikmah di atas
menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani
sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin
berkurang.Mohon maaf bila ada kesalahan akhirul kallam
ﻮﺃﻠﺳﻼﻤ ﻋﻟﻳﻛﻣ ﻮﺮﺤﻣﺔ ﺃﻠﻟﻪ ﻮﺒﺭﻜﺎﺘﻪ
0 komentar:
Posting Komentar